http://www.tempo.co/read/news/2012/12/20/107449452

All posts tagged http://www.tempo.co/read/news/2012/12/20/107449452

Hambat Perkembangan HIV AIDS dengan Ginseng Merah

Published December 20, 2012 by ISMAYA DWI AGUSTINA

TEMPO.CO, Ulsan — Sebuah penelitian di Korea menunjukkan tiga pasien dengan HIV AIDS mampu bertahan hidup selama 20-25 tahun hanya dengan hanya mengkonsumsi gnseng merah (red ginseng) tanpa meminum obat antiretroviral sama sekali.

Penelitian ini dilakukan oleh Professor Mikrobiologi dari Universitas Ulsan, Cho Young Gul, yang bekerja sama dengan tim peneliti dari Laboratorium Nasional Los Alamos University, Amerika Serikat, dipimpin oleh Brian T. Foley. Hasil penelitian ini dipublikan di Jurnal Internasional AIDS pada 2 Desember lalu.

Sebelumnya pernah dilaporkan adanya kasus seorang warga negara Australia yang mampu bertahan hidup hingga 29 tahun dari HIV/AIDS tanpa mengkonsumsi obat antiretroviral sama sekali. Berdasarkan studi ini, maka tiga orang warga Korea yang didiagnosa menderita HIV AIDS pada tahun 1987, 1988m dan 1992 secara teratur meminum 12 kapsul (500 mg) ginseng merah setiap hari tanpa obat antiretroviral.

Hasil penelitian menunjukkan gejala AIDS pada satu pasien yang minum ginseng merah setiap hari sejak terdeteksi menderita HIV positif pada tahun 1987 tidak berkembang sama sekali hingga 25 tahun kemudian. Professor Cho mengatakan, ginseng merah mampu memperlambat perkembangan gejala AIDS karena mampu mendeteksi kode genetik dari virus HIV.

“Analisis DNA untuk virus AIDS pada tiga orang dan 18 lainnya yang terdeteksi HIV-positif. Mereka yang memakai ginseng merah dalam jangka panjang menunjukkan perbedaan sekitar 75 persen,” ujar Cho.

Dengan tidak munculnya gejala AIDS pada tiga orang ini, secara teliti tim penelitian Cho terus melakukan pemantauan. Ia dan timnya secara hati-hati memprediksi gejala AIDS pada tiga orang itu tidak akan muncul lagi dalam waktu 30 tahun.

“Mungkin pengobatan dengan minum ginseng merah ini dapat dicoba terhadap orang-orang yang minum obat antiretroviral,” ujar Cho. Meskipun begitu, Cho menyarankan bagi setiap dokter untuk bertindak hati-hati dalam mengubah metode pengobatan.

 

from : http://www.tempo.co/read/news/2012/12/20/107449452

Advertisements